Memetakan Globalisasi dan Media Konvergensi
21.51
Setiap kita membahas mengenai globalisasi di kelas-kelas ketika SMA dulu, topik yang dibicarakan biasanya terfokus pada proporsi film barat dan film lokal di bioskop Indonesia. Kita selalu merasa bahwa, sebagai efek samping dari globalisasi, kultur barat mendominasi kultur timur--yang mana merupakan model lama dari imperialisme budaya.
Padahal, model imperialisme budaya yang bersifat satu arah tersebut--yakni barat mendominasi timur--tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya hari ini, kultur timur memiliki peran yang signifikan dalam arus konten media dan budaya. Bisa dilihat dari seberapa banyak remaja Indonesia yang menggandrungi Idol pop dari Korea, atau menjadi partisan budaya cosplay dari Jepang.
Selain sebagai efek sporadis dari teknologi internet, pertukaran arus kultur barat dan timur yang bersifat dua arah tersebut juga dipengaruhi oleh para imigran yang pindah dari negara timur ke barat. Ketika pindah, para imigran melakukan diaspora, membawa kepentingan grassroot mereka ke negara yang mereka tempati.
Contohnya adalah, beberapa film beraliran independent yang dibuat oleh filmmaker Indonesia, seperti Prenjak dan The Murderer in Four Acts, yang telah lolos dari seleksi ketat 55th Semaine de la Critique Cannes Film Festival 2016 di Perancis. Karena adanya rasa kesamaan nasib dan latar belakang, orang-orang Indonesia yang tinggal di sana berbondong-bondong untuk menonton screening film tersebut dan mengajak teman-temannya atau warga lokal kenalan mereka.
Hal ini mengakibatkan adanya transmisi nilai kelokalan Indonesia, seperti potret kehidupan Jogja dan dialog bahasa Jawa di film Prenjak. Transmisi kultur ini dapat terbilang sukses karena banyak audiens pemutaran film festival Cannes, yang meskipun berasal dari latar belakang sosiokultural yang beragam, mereka tertarik dengan budaya yang di representasikan dalam film Prenjak.
Hal ini dapat menambah ketertarikan orang - orang asing dalam bidang wisata dan dalam bidang ekonomi kreatif Indonesia. Semoga saja kedepannya, lebih banyak film Indonesia yang berkualitas dapat mendapat perhatian besar dari kalangan Internasional. Dengan bantuan media dan digitalisasi, sudah saatnya Indonesia bermain peran dalam arus globalisasi dan tidak lagi hanya menjadi penonton.
http://life.viva.co.id/news/read/773360-prenjak-film-indonesia-diputar-di-festival-cannes-2016
- Sarah Annida dan Winona Amabel -
0 komentar