Pada istirahat makan siang kali ini, salah satu teman saya kembali di hujani pertanyaan - pertanyaan dari kawan - kawannya perihal persoalan hidupnya. Dalam percakapan tersebut, ada beberapa hal yang menurut saya menarik.
"Jadi lo sama dia gimana?"
"Aaaaah elo, sumpah gue sama dia gaada apa - apa!"
"Ga ada apa - apa? Yakin? Orang kalian keliatan nyaman banget berduaan"
"Iyasih gue nyaman (tersenyum), tapi bener... enggak ada apa - apa, buktinya kita enggak chat..."
Teman saya (sebut saja Mawar) dan beberapa dari anak muda lain pada jaman ini memiliki konsepsi yang sama tentang kadar kedekatan dengan pasangan potensial. Kebanyakan dari kami mengukur tingkat kedekatan dengan seseorang dengan melihat frekuensi chat dengan orang tersebut, atau kadang melihat seberapa banyak emoji yang saling dikirimkan, atau apakah dia jadi orang pertama yang me-view snapgram story kita pagi ini dan juga tentunya apakah dia mengomentari setiap postingan baru kita di instagram.
Hal ini dapat didasari oleh Technological Determinism Theory yaitu sebuah asumsi yang dicetuskan oleh McLuhan, bahwa teknologi sendiri dapat membawa perubahan budaya tanpa perubahan struktur yang lebih luas (McDougall, 2012.) Dengan adanya teknologi instant messaging seperti aplikasi LINE, Whatsapp dan fitur chat atau messaging di Instagram dan lain - lainnya, kita dapat berinteraksi dengan cepat dan mudah. Tentunya teknologi instant messaging ini menjadi sangat penting untuk menjaga sebuah hubungan dengan seseorang yang spesial, Sebelumnya, mungkin generasi orangtua kita, melihat seseorang yang potensial sebagai pasangan dengan cara yang sederhana. Sesederhana apakah dia melihat ke arah kita saat waktu istirahat di kantin dan apakah dia mengatakan hal - hal gombal saat mencoba mengajak menonton bioskop weekend ini.
Padahal teman saya Mawar bisa saja memang dekat dengan si "dia" yang dibicarakannya tersebut. Tetapi, karena budaya dalam masyarakat dimana Mawar berada mengkonstruksikan bahwa indikasi spesial atau tidak nya sebuah hubungan adalah melalui frekuensi sering tidaknya chat lewat instant messaging, Mawar jadi merasa bahwa hubungannya dengan "dia" tidak spesial. Apabila ditelisik lebih lanjut, sebenarnya darimana asal budaya tersebut? Apakah asalnya dari kecanggihan teknologi instant messaging yang serba cepat atau karena masyarakat yang membentuk "aturan" dan membudayakan chat lewat instant messaging sebagai keharusan saat membangun hubungan spesial dengan seseorang?
Padahal teman saya Mawar bisa saja memang dekat dengan si "dia" yang dibicarakannya tersebut. Tetapi, karena budaya dalam masyarakat dimana Mawar berada mengkonstruksikan bahwa indikasi spesial atau tidak nya sebuah hubungan adalah melalui frekuensi sering tidaknya chat lewat instant messaging, Mawar jadi merasa bahwa hubungannya dengan "dia" tidak spesial. Apabila ditelisik lebih lanjut, sebenarnya darimana asal budaya tersebut? Apakah asalnya dari kecanggihan teknologi instant messaging yang serba cepat atau karena masyarakat yang membentuk "aturan" dan membudayakan chat lewat instant messaging sebagai keharusan saat membangun hubungan spesial dengan seseorang?
Dalam kaitannya dengan teori Technological Determinism dan SCOT, instant messaging menjadi sebuah contoh akan keduanya. Technological Determinism beranggapan bahwa teknologi membentuk kultur—bagaimana individu di dalam masyarakat berpikir, merasa, dan berperilaku, serta perubahan perilaku tersebut seiring dengan perubahan teknologi (Mcluhan, 1962). Sementara menurut teori Social Construction of Technology, kultur dan perilaku manusia yang membentuk teknologi (Pinch & Bijker, 1984). Instant Messaging pasti berasal dari kebutuhan manusia untuk berinteraksi, maka dalam awal pembentukannya, teori SCOT berlaku. Tetapi dalam perkembangannya, banyak budaya baru yang terbentuk dalam masyarakat karena kecanggihan teknologi instant messaging.
Maka dalam kasus instant messaging, teori TD dan SCOT berlaku seperti mata rantai yang saling berkaitan. Manusia membentuk teknologi dan teknologi membentuk budaya baru bagi manusia. Kita sebagai manusia perlu memiliki kesadaran tentang bagaimana budaya - budaya tersebut terbentuk dan potensinya memengaruhi banyak aspek kehidupan kita. Sehingga apabila ada potensi konflik interpersonal atau intrapersonal (seperti Mawar) yang diakibatkan oleh instant messaging, kita harus dapat menyelesaikannya dengan kesadaran sepenuhnya.
Refrensi:
McDougall, Julian. 2012. Media Studies: The Basics. New York: Routledge.
Sarah Annida - 1506685933
Refrensi:
Mcluhan, M. (1962). The Gutenberg Galaxy: The making of Typograhic Man. Toronto: University of Toronto Press.
McDougall, Julian. 2012. Media Studies: The Basics. New York: Routledge.
Pinch, Trevor J. and Wiebe E. Bijker. "The Social Construction of Facts and Artefacts: Or How the Sociology of Science and the Sociology of Technology Might Benefit Each Other." Social Studies of Science 14 (August 1984): 399-441.
Eliana Docktermanhttp://time.com/4217474/valentines-day-texting-and-dating/
Sarah Annida - 1506685933









