Memerangi Fake News di Ranah Digital Indonesia
21.37
oleh Sarah Annida, Winona Amabel, Yasmin Nur Fatimah
Memang, kehadiran internet yang kini sudah semakin mudah membuat pengguna nya dapat mencari berbagai informasi secara lebih mudah.
Tapi, apakah dengan adanya berbagai informasi tersebut, dapat memenuhi kebutuhan mereka akan informasi tersebut? Tentu tidak.
Kenapa tidak?
Asosiasi APJII menyatakan bahwa pada tahun 2016, 132 juta
penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Arus informasi bergerak secara
cepat dan hampir semua orang dapat mengakses informasi tersebut. Namun, dari
132 juta orang yang telah dapat mengakses internet tidak semua berasal dari
kalangan terdidik atau terliterasi secara digital.
Dengan adanya kanal media online, produksi berita menjadi lebih mudah sehingga dapat
dilakukan oleh orang-orang awam, tidak terbatas pada institusi-institusi media mainstream. Amateurisasi massa—sebuah kondisi
yang mana setiap orang dapat memproduksi berita—ini memunculkan banyaknya kanal
media alternatif yang berasal dari badan usaha kecil dan tidak memilki power.
Kanal – kanal media alternatif ini mencoba mencari keuntungan dengan
memanfaatkan keadaan pengguna internet Indonesia yang menyukai berita – berita bohong.
Seperti kaitannya dengan film dokumentasi yang diproduksi oleh ICT Watch yang berjudul "Lentera Maya", dimana keadaan politik di Indonesia sangat didukung dengan adanya informasi-informasi yang dibuat dengan sangat provokatif dan beberapa informasi juga bohong atau tidak benar.
Menurut Prof. Steve Reiner pada Public Lecture nya yang diadakan ada hari Kamis 4 Mei lalu, berita-berita seperti itu dapat diantisipasi dengan cara memverifikasi informasi yang ada dengan membandingkan informasi satu, dengan informasi lainnya. Kemudian, cara lainnya adalah dengan memeriksa kredibilitas dari website tersebut.
Cara-cara di atas memang efektif untuk mengetahui fake news pada kanal berita online. Namun, ada satu hal paling penting untuk memerangi diseminasi fake news di Indonesia, yakni dengan meningkatkan pendidikan literasi digital. Melalui literasi digital, consumer akan lebih sadar akan bahaya dari fake news dan tahu cara memroses informasi pada ranah dunia maya.
0 komentar