Gaya Berpacaran dan Teknologi

10.56


Berbicara soal berpacaran, masing-masing manusia mempunyai makna sendiri dalam menginterpretasikannya. Namun dalam kita memaknai bagaimana itu mencintai seseorang (dalam konteks ini lalu berpacaran), sangat dipengaruhi oleh bagaimana budaya masyarakat kita mencintai. Seperti sebuah pepatah dari La Rochefoucauld "There are some people who would never have fallen in love if they had not heard there was such a thing." Pepatah tersebut menyatakan bahwa akan ada beberapa orang yang tidak akan pernah merasakan jatuh cinta, apabila mereka tidak mengetahui ada hal seperti itu. 

Bagaimana budaya masyarakat dalam mencintai seseorang yang akhirnya berpacaran berkaitan erat dengan perkembangan teknologi khususnya dalam bidang komunikasi. Hal ini dapat didasari oleh Technological Determinism Theory yaitu sebuah asumsi yang dicetuskan oleh McLuhan, bahwa teknologi sendiri dapat membawa perubahan budaya tanpa perubahan struktur yang lebih luas (McDougall, 2012.) Dahulu, bertanya kabar dengan pasangan hanya bisa dengan surat menyurat apabila lokasinya sedang tidak sedang bersama kita. Waktu untuk surat tersebut sampai di tangan penerima juga tergantung oleh jarak dari lokasi si penerima. Apabila lokasi berdekatan, pasangan juga dapat bertemu langsung pada suatu tempat yang terjangkau oleh kedua belah pihak. Namun seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, sekarang komunikasi dapat dilakukan secara real-time tanpa delay maupun hambatan melalui pesan singkat atau chat. Hal ini memengaruhi pula bagaimana gaya berpacaran masa kini dimana eksistensi pasangan dapat hanya digantikan oleh beberapa kata dalam balasan chat saja. Maka tidak jarang terjadi konflik dalam hubungan saat ada seseorang yang geram karena pasangannya tidak membalas pesan singkatnya dan sering diartikan sebagai "tidak peduli" atau "tidak selalu ada untuknya". Padahal kenyataannya, dengan ia membalas pesan singkat tersebut atau tidak, keberadaan pasangannya memang tidak sedang di saat tersebut bersamanya. Masyarakat kadang hanya terlalu terbuai oleh eksistensi maya yang ditawarkan oleh teknolog-teknologi canggih.

Namun seiring berkembangnya teknologi, terdapat pula teori yang ingin menandingi atau mengkritisi Technological Determinism Theory tersebut yaitu Social Construction of Technology. Teori SCOT menyatakan bahwa teknologi bisa merubah budaya sosial, namun perubahan teknologi tersebut ada karena permintaan atau demand dari masyarakat itu sendiri (Williams, 1974). Dapat dilihat juga dari bagaimana seseorang menemukan sosok yang dapat dijadikan calon pasangan melalui dating apps seperti Tinder, OkCupid dan lainnya. Adanya teknologi yang mempermudah pertemuan kedua belah pihak yang sedang mempunyai tujuan yang sama, didasari oleh permintaan masyarakat yang semakin sulit menemukan seseorang baru yang juga sedang mencari apa yang sedang mereka cari yaitu pasangan. Dengan algoritma yang sedemikian rupa pula, dating apps seperti OkCupid bahkan dapat menyajikan fitur psychological test dan checklist karakteristik pasangan ideal untuk mempermudah kita menemukan pasangan idaman yang kita cari. Terjadinya fenomena seperti ini juga diakibatkan sulitnya interaksi yang dapat mencetuskan pertemuan dengan orang-orang baru, khususnya orang-orang yang sesuai dengan kriteria pasangan ideal.

Perdebatan akan teori mana yang paling relevan pada era sekarang tidak akan pernah habis karena masing-masing teori berjalan sesuai dengan konteks teknologi tersebut. Namun perbedaannya dari kedua teori tersebut adalah aspek apa yang merubah sesuatu itu. Apakah perkembangan teknologi yang merubah budaya atau perilaku manusia, atau karena permintaan manusia adanya perubahan dan perkembangan teknologi yang lebih canggih? Sebagaimana pertanyaan apakah hanya perkembangan teknologi yang menrubah gaya berapacaran atau memang gaya berpacaran yang merubah teknologi tersebut?

Preferensi:
McDougall, Julian. 2012. Media Studies: The Basics. New York: Routledge.
Rochefaucould, François de La. 1959. Maxims. England: Penguin Classic Book.
Williams, Raymond. 1974. Television: Technology and Cultural Form. London: Routledge.

Nabila Cyrilla Imani
1506756192

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images