Ayam atau Telur?
16.56
Oleh: Winona Amabel 1506730861
Saya mau melemparkan satu
pertanyaan, nih.
“Apakah ayam yang duluan
ada, atau telur?”
Terdengar receh, memang, pertanyaan itu, tetapi
sebetulnya jawabannya cukup mirip dengan satu pertanyaan penting yang sudah
lama berputar di kepala saya:
“Apakah teknologi yang memengaruhi kultur sebuah masyarakat—misalnya
membuat malas dan jadi ketergantungan; ataukah kultur dan permintaan dari
masyarakat tersebut yang sedari awal memengaruhi pembuatan teknologi—misalnya,
kita memang sudah malas sedari awal hingga membutuhkan teknologi untuk
mempermudah hidup kita?”
Pertanyaan yang terakhir
itu sebetulnya berada pada ranah studi tentang sains dan teknologi, dan dapat
dijelaskan menggunakan dua teori yang—kebanyakan orang kira—merupakan antitesis
akan satu sama lain, yaitu Technological
Determinism (TD) dan Social
Construction of Technology (SCOT).
Berdasarkan teori Technological Determinism, teknologi membentuk
kultur—bagaimana individu di dalam masyarakat berpikir, merasa, dan
berperilaku, serta perubahan perilaku tersebut seiring dengan perubahan
teknologi (Mcluhan, 1962). Sementara menurut teori Social Construction of Technology, kultur dan perilaku manusia yang
membentuk teknologi (Pinch & Bijker, 1984).
Sama dengan perihal ayam dan telur, teknologi dan kultur
tidak dapat dikorelasikan dengan model kausalitas, yang mana satu variabel
menjadi penyebab dan satu variabel menjadi akibat sehingga ada variabel yan bersifat
dependen akan variabel lainnya. Sebaliknya, teknologi dan kultur merupakan
sebuah siklus yang berputar terus menerus. Satu variabel yang awalnya merupakan
akibat, dapat bergeser menjadi penyebab yang mengakibatkan variabel satunya
lagi.
Salah satu fenomena yang
menggambarkan siklus tersebut adalah penggunaan aplikasi Line. Menggunakan perspektif
teori Technological Determinism, aplikasi
Line memunculkan kultur baru dalam kegiatan chatting,
yakni menggunakan sticker. Ketika
dulu ada emoji yang hanya bersifat
sebagai pendukung teks dalam chat,
maka sticker Line ini dapat menggantikan
keseluruhan teks dan emoji tersebut.
Kemudian, menggunakan perspektif
teori Social Construction of Technology,
sticker Line yang ada sebetulnya
merupakan produk budaya. Contohnya adalah sticker
berjudul “Hits SMA” ini yang merupakan representasi kultur gadis SMA, dan sticker “Porco Rosso” yang dibuat
berdasarkan film Porco Rosso (1992)
oleh Studio Ghibli. Dengan kata lain, kulturlah yang membentuk sticker Line tersebut.
Pada tataran teknologi dan
kultur, tidak ada variabel yang bebas atau terikat karena keduanya saling
memengaruhi satu sama lain. Kultur membentuk teknologi, kemudian teknologi
membuat kultur yang baru, lalu kultur yang baru tersebut membentuk teknologi
yang lain lagi. Kita seringkali terpaku pada kausalitas—bahwa teknologi
membentuk kultur atau sebaliknya. Padahal fenomena sosiokultural tidak selinear itu, justru merupakan proses siklikal yang membentuk mata rantai yaaang panjang.
*wink*
*wink*

Daftar Pustaka:
Mcluhan, M. (1962).
The Gutenberg Galaxy: The making of Typograhic Man. Toronto: University of
Toronto Press.
Pinch, Trevor J. and Wiebe
E. Bijker. "The Social Construction of Facts and Artefacts: Or How the
Sociology of Science and the Sociology of Technology Might Benefit Each
Other." Social Studies of Science 14 (August 1984): 399-441.





0 komentar